Lagi dan lagi
Aku berada di persimpangan jalan
seperti tiga menit yang lalu.
Benakku penuh kalkulasi dan ramalan
senantiasa kuterawang ujung tiap jalan
sejauh mata memandang
samar-samar
Simpang kiri selalu rimbun
Sedang kanan selalu berbatu
Belok kanan barangkali jadi pilihan
Jalan ini cukup terang
kerikil tajam isyaratkan perjuangan
akan sakit berjalan disini
Jalan rimbun tidak lebih pantas
Kegelapan memacu ketakutan
tiap orang derap langkahnya rendah
agar supaya tidak salah salah
maju bersiap menjumpai pilihan.
Pilihan setelah pilihan,
begitu seterusnya
Tanpa tahu bagaimana akhir
mundur sebaliknya
tanpa pilihan,
sesuatunya tetap
pada mulanya adalah rendah
keputusanku adalah jalan berbatu
hasilnya kakiku biru-biru,
Saat ini hanya dapat berkesah
Sebab kembali hanya menambah derita
lagi dan lagi
Aku berada di persimpangan jalan
seperti tiga menit yang lalu.